Wednesday, June 12, 2013

(cerpen fiksi #1) DESA PERUT NAGA


(written & illustrated by Nadhira Fidelia)


Namaku Evelyn, aku tinggal di Desa Perut Naga dengan masyarakat desa lainnya. Kami semua bekerja untuk raja kita, Sang Naga Besar.

Sang Naga besar selalu bertempur, dengan apinya tentunya. Kadang beberapa dari kita berfikir, “dari manakah datangnya api naga tersebut?” Jawabannya adalah dari jerih payah masayarakat di desa Perut Naga, desa dimana kami tinggal dan bekerja.

Api yang keluar dari mulut Sang Naga berasal dari pembakaran tumbuhan-tumbuhan yang kami tanam setiap harinya. Tumbuhan-tumbuhan tersebut akan dimasukkan kedalam Lubang Hitam, lubang yang sangat besar dan gelap, tidak ada satu orangpun yang berani mengintip kedalamnya, karena apapun yang jatuh kedalam lubang tersebut akan terbakar menjadi bara api yang selanjutnya akan disimpan didalam tabungan api Sang Naga.

Jadi beginilah hidup kami, pagi siang malam bekerja untuk raja kami. Ingin sekali aku merasakan hidup diluar sana, dimana gadis-gadis seumurku merasakan pahit manisnya hidup serta cinta. Ah, bukan hanya itu, aku juga ingin bisa melihat keadaan dunia diluar sana, sepertinya mengagumkan.




------------- 



Namaku Edward, aku sudah lama tinggal di Desa Perut Naga, bekerja untuk Sang Raja tanpa kenal lelah. Semua orang sudah mengenalku dengan julukan ‘Si Anak Naga’ karena semangat kerjaku yang tinggi.

Selain semangat kerjaku yang tak ada tandingannya, sudah beberapa minggu ini aku memperhatikan seorang gadis sederhana yang menurutku sangat baik hati dan pekerja keras, namun orang-orang menganggap remeh dirinya karena dia satu-satunya remaja perempuan yang paling muda dan tubuhnya kecil. Gadis itu perlu kereta dorong untuk mengangkut tumbuhan-tumbuhan dimana tidak ada seorang pun yang membutuhkannya. Karena itu, semua orang meremehkannya. Gadis itu bernama Evelyn.

 ------------



Aku ingin mengambil kereta dorong yang biasa aku parkirkan di samping pohon ek, namun tiba-tiba aku terkena lemparan tomat dari tetanggaku, Reina. Reina yang selalu membenciku lalu tertawa sambil menunjuk kearahku, “Evelyn! Kamu memang lemah! Buat apa kamu perlukan kereta dorong tua itu?! Kamu hanya bisa membawa lima wortel dan lima ikat sawi dengan kereta itu, sedangkan kami semua mampu membawa puluhan dengan kedua tangan kami! Hahaha dasar kamu lemah tidak berguna dan tidak akan pernah berguna!”
Dan, betul. Semua orang yang mendengar teriakkan Reina ikut tertawa karena aku juga tahu kalau mereka semua meremehkanku. Lalu, ketika semua orang sudah selesai menertawakanku dan pergi, aku menemukan sebuah surat didalam kereta dorongku.

Maka aku naik ke puncak pohon ek, dan aku kaget ketika sampai puncak pohon dan bertemu dengan tangga yang sangat tinggi hingga ke langit, dan aku heran karena tangga ini tidak pernah terlihat keberadaannya sebelumnya. Tapi karena penasaran, tanpa pikir panjang aku telah sampai di anak tangga tertinggi.

Aku berada di anak tangga yang paling tinggi.

"Apa ini? Kenapa begitu indah?" kata-kata itu dengan sendirinya keluar dari mulutku.

Oh, aku sedang melihat apa yang Sang Naga lihat. Ternyata aku berada di jendela mata Sang Naga. Aku melihat cahaya matahari yang besar dan indah, dan pepohonan yang lebat. Aku baru tahu dunia diluar seperti apa. Wujudku memang manusia, namun aku belum pernah melihat dan menginjakkan kakiku di tanah dunia. Aku tidak tahu harus berterima kasih sebesar apa kepada siapapun yang menunjukkanku tempat seperti ini. Hadiah terbesar yang pernah kuterima.


Tiba-tiba aku teringat dengan pekerjaanku, lalu secara spontan aku turun kebawah untuk melanjutkannya. Aku kembali mengangkut wortel dan sawi menuju lubang hitam.

Aku sudah sampai di gerbang Lubang Hitam. Aku bertemu dengan Edward, sosok lelaki yang dipuji semua orang karena kerja kerasnya. Aku jarang bertemu Edward, karena aku malu dengan statusku yang selalu diremehkan, berbeda jauh dengan dirinya. Aku sudah lama mengagumi Edward, karena sifatnya yang tidak mudah menyerah dan wajahnya yang mempesona. Tak lama, Edward menyapaku.

“Apakah kau tidak bergabung dengan yang lainnya di taman? Aku dengar Reina mengadakan pesta wortel karena dirinya memecahkan rekor membawa 70 wortel dengan satu tangan”

“Ah, tidak. Aku terlalu malu melihatkan keberadaanku disana. Bagaimana dengan kamu? Bukankah acaranya akan semakin seru jika ‘Si Anak Naga’ ikut bergabung? Hahaha.” Jawabku sambil tertawa malu.

“Hahaha, aku tidak terlalu suka keramaian. Lebih baik aku disini bekerja memasukkan wortel dan sawi kedalam lubang hitam. Oh iya, silakan kalau kamu mau duluan memasukkan bawaanmu ke lubang hitam, aku setelah giliranmu saja.”

Maka aku berjalan ke tepi lubang hitam. Namun seketika aku terpeleset dan kereta dorongku terjatuh kedalam lubang hitam, dan secara spontan aku ingin mengambilnya namun Edward langsung menahan gerakanku dan mencoba menangkap kereta dorong tersebut. Dan ketika Edward mencoba menangkap, dirinya pun tidak mampu menangkap dan jatuh ke lubang hitam, namun untungnya dia masih bisa bertahan dengan berpegangan di tepi lubang.

Aku mencoba menarik tangan Edward. Namun tubuh Edward jauh lebih besar dan jauh lebih berat dariku sedangkan tubuhku sangat kecil dan kurus. Dan aku menengok ke sekitar dan  tidak ada wujud seorangpun karena semua orang sedang berpesta di taman. Edward lalu berkata sambil mencoba bertahan,

“Sudah, Ev. Tidak perlu panggil mereka.”

Aku panik dan bingung, akhirnya air mataku menetes. Sambil memegang tangan Edward dan merasakan urat-uratnya yang tegang karena sedang mencoba bertahan, aku berkata “Maafkan aku Ed, Ini semua karena kecerobohanku.”

“Tidak, Ev. Maafkan aku karena aku tidak sanggup menangkap kereta dorongmu, aku tahu kamu tidak dapat bekerja dengan kereta dorong itu. Setelah ini, aku mau kau pergi ke rumahku dan mengambil kereta dorong peninggalan kakekku di gudang. Ah, aku sudah tidak tahan lagi, sepertinya aku akan melepas tanganku.”

“Edward! Tahan!” Aku mencoba menarik tangan Edward lagi, namun apa daya, aku terlalu kecil.

“Ev, mulai hari ini jangan pernah kau beri tahu ke siapapun tentang kejadian ini. Anggap tidak terjadi apa-apa. Maafkan aku, Ev.”

“Edward! Tolong tahan, Ed! Aku akan coba cari seseorang di sekitar sini yang bisa menarikmu, kamu tunggu dan coba tetap bertahan!” Lalu aku berbalik badan, berdiri untuk berlari mencari bantuan.

“Ev!” suara itu menghentikanku. “Ev! Sudah kubilang tak perlu kamu pergi ke taman itu! Taman itu sangat jauh dan aku tidak bisa bertahan lama lagi, tanganku sudah terlalu sakit. Sudahlah, Ev. Biarkan saja aku.”

Aku berbalik badan lagi, berlari menuju Edward dan memegang tangannya sambil menangis. Tiba-tiba Edward memanggil namaku dan berkata,

“Ev, sudahkah kamu naik ke puncak pohon ek? Indah bukan?”

Kata-kata itu membuatku terdiam. Hadiah terbesar dan terindah yang pernah kuterima ternyata adalah pemberian dari seseorang yang tak pernah aku duga sebelumnya.
“Selamat ulang tahun, Ev. Jangan lupa ambil kereta dorong di gudang rumahku.”

Lalu Edward melepaskan tangannya dan terjatuh kedalam lubang tersebut.
Aku melihat air matanya menetes ketika dia terjatuh, sambil menatapku dan tersenyum. Aku berteriak memanggil namanya, terus berteriak walaupun aku tahu aku tidak dapat mendapatkannya kembali. Aku sadar bahwa aku kehilangan satu-satunya orang yang telah memberikanku kebahagiaan yang akan berbekas selamanya di hatiku, di hari ulang tahunku.